keterlaluan

Kabar Raya - Ketua Inspektorat Kabupaten Tangerang, Dedi Sutardi memiliki tips dan trik cerdas dalam menghadapi wartawan atau lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang nakal. Mungkin tips dan trik cerdas ini bisa dijadikan contoh bagi para pejabat di wilayah Tangerang Raya.

Memusuhi dan memiliki jarak dengan wartawan atau LSM tentu bukan pilihan yang baik bagi setiap tokoh publik. Pasalnya kedua profesi itu selain dilindungi oleh undang-undang merupakan pilar ke empat dari sistem demokrasi yang dianut bangsa ini.

Alumni Universitas Padjajaran, Bandung, Jawa Barat ini memiliki cara jitu menghadapi wartawan atau LSM nakal yang bertujuan dalam setiap tugas liputannya hanya mencari uang dengan cara memeras narasumber.

Dedi menceritakan dirinya pernah didatangi LSM dengan tujuan melakukan pemerasan. Menurut Dedi, tujuan pemerasan itu dikemas dengan membawa beberapa data yang dinilainya tidak tepat dan jauh dari kejelasan.

"Karena saya sudah mengetahui keinginannya dan saya juga menjaga bahwa mereka adalah bagian dari sosial kontrol dari kita yang bekerja sebagai pelayan publik maka saya tanyakan ke LSM itu dua pilihan. Yang saya ingin tanyakan ke anda adalah apa yang anda pilih angka atau waktu," kata Dedi mengenang pengalamannya menghadapi LSM yang nakal itu kepada kabarraya di kantornya di Tangerang, Rabu (4/1/2017).

Dedi mengenang saat itu, LSM tersebut menjawab angka. Selanjutnya Dedi mempersilakan LSM itu menyebutkan angkanya dan menegaskan dirinya mendapat pilihan waktu.

"Dia menyebutkan angka Rp 50 Juta ke saya. Selanjutnya saya menjawab karena diberikan pilihan waktu, maka saya menjawab akan memberikan uang sebesar Rp 50 Juta lima tahun yang akan datang," kata Dedi.

Dedi menyebutkan saat itu wajah dari LSM yang meminta itu memerah dan meminta memilih waktu tidak angka. Kembali Dedi mempersilahkannya. "Dia meminta saya menyerahkan uang yang dimintanya itu besok siang. Karena saya sudah menyanggupi saya katakan siap," kata Dedi.

Esoknya, diceritakan Dedi, LSM itu datang bersama beberapa temannya ke ruang kerjanya. Namun sebelum duduk, Dedi menegaskan kepada LSM itu untuk telah habis waktunya dalam menentukan pilihan. Dedi mengingatkan LSM itu telah memilih waktu dan angka merupakan bagian dari pilihan yang diberikan kepadanya. LSM itu menyetujuinya.

"Selanjutnya saya berikan kepada mereka uang senilai Rp. 500 ribu. Tujuannya pemberian uang itu menurut saya merupakan nilai yang wajar untuk mengganti bensin dan uang makan siang mereka yang datang ke kantor saya selama dua kali," katanya.

Lagi-lagi para LSM itu protes dan mempertanyakan kepada saya kenapa nilainya tidak sama dengan permintaan mereka. Mendengar pertanyaan dari LSM itu Dedi menegaskan kepada LSM itu untuk tidak boleh mengambil dua pilihan yang ia tawarkan. Jika mereka mengambil kedua pilihan tersebut dikatakan Dedi namanya merampok.

"Saya bilang ke mereka, kalau kedua pilihan itu diambil maka namanya merampok. Dan saya bisa laporkan kalian ke polisi sekarang juga karena telah merampok saya. Alhasil kedua LSM itu tidak banyak cerita dan langsung pamit dari hadapan saya," tegas Dedi sambil tersenyum.