73 Tahun Menghidangkan Keindahan untuk Indonesia: Selamat Jalan Guruh Soekarnoputra
Kabar itu tiba sebelum fajar pecah. Pukul 4.16 WIB. Jakarta masih gelap. Dari sebuah ruang di MRCCC Siloam Hospitals Semanggi Guruh Soekarnoputra menghembuskan napas terakhirnya. Usianya 73 tahun. Dini hari tadi Indonesia kehilangan tukang merangkai keindahannya sendiri.
Ada kesesuaian yang mengharukan dalam pemilihan jamnya. Ia berpulang ketika kota belum bangun. Tidak ada klakson. Tidak ada sorak. Tidak ada lampu panggung yang menyala. Orang yang seumur hidupnya menghidangkan kemegahan justru pamit pada jam paling sederhana. Semesta rupanya tahu cara menghormati seorang penyair yang sedang pulang.
Sepanjang pagi ini kabar itu berpindah dari satu ponsel ke ponsel lain. Orang-orang yang baru bangun tidur mendadak teringat lagu-lagu masa kecil mereka. Di media sosial nama Guruh Soekarnoputra menumpuk berdampingan dengan doa-doa. Negara ini kehilangan bukan hanya seorang seniman. Negara ini kehilangan saksi hidup sekaligus penghias perjalanannya.
Guruh Soekarnoputra lahir pada 5 Oktober 1953 sebagai putra bungsu Bung Karno dan Fatmawati. Republik ini baru berumur delapan tahun ketika ia datang ke dunia. Tujuh puluh tiga tahun kemudian ia menutup mata untuk terakhir kali. Selama rentang itu ia menyaksikan sejarah Indonesia dari kursi paling depan. Ia melihat sang ayah membangun sebuah bangsa. Ia pun menyaksikan bangsa itu menjatuhkan sang ayah. Pengalaman sebegitu berat biasanya melahirkan dua jenis manusia. Yang menjadi pahit atau yang berkarya. Guruh memilih yang kedua.
Jalan yang tersedia bagi anak sebesar itu biasanya terbuka lebar ke arah kuasa. Guruh menikung. Ia memilih arah yang bagi banyak orang terdengar janggal untuk seorang putra presiden. Ia mengabdikan diri pada seni dengan kesungguhan seorang pertapa. Beberapa tahun setelah Bung Karno wafat lahirlah Gema Swara Mahardika pada 1970-an. Kelompok itu bukan sekadar sanggar tari. Ratusan penari berlatih di dalamnya. Penabuh gamelan dan para penyanyi disiplin layaknya pasukan. Panggungnya dirancang bak dongeng yang hidup. Orang boleh berbeda pendapat soal selera. Orang sulit menyangkal bahwa tontonan semacam itu belum pernah ada sebelumnya di negeri ini.
Karya besarnya tersebar diam-diam dalam kehidupan sehari-hari orang Indonesia. Anak-anak sekolah menyanyikan lagu tentang seribu pulau tanpa tahu siapa penciptanya. Pengantin menari dengan lagu ciptaannya di pelaminan. Pendengar radio tua menghafal bait-baitnya tanpa pernah mencatat nama komponisnya. Guruh tidak pernah protes. Ia tampak cukup bahagia membiarkan lagu-lagunya menjadi milik banyak orang. Sikap semacam itu langka di industri yang biasa berebut tempat di bawah lampu sorot.

Pertemuannya dengan Chrisye melahirkan salah satu babak termewah dalam sejarah musik pop Indonesia. Album Smaradhana yang dirilis pada 1986 membuktikan bahwa pop bisa lahir dari kesabaran menyusun nada demi nada. Melodi Guruh dalam suara Chrisye menghasilkan lagu-lagu yang tetap didengarkan lintas generasi. Vina Panduwinata turut mewarnai karya-karya itu dengan warna yang tak tergantikan. Nama-nama besar itu bersinar. Sang pencipta tetap duduk tenang di baliknya.
Ada yang pernah mengolok gemerlap panggungnya. Bulu-bulu warna-warni. Sulam dan payet bermeter-meter. Emas di sana sini. Namun coba perhatikan lebih dekat. Di balik kemewahan itu tersimpan keyakinan yang bulat. Guruh percaya budaya bangsanya layak diperlakukan seperti mahkota. Tari daerah dan lagu daerah tidak boleh dipajang di kotak murahan. Maka ia mendandani semuanya dengan yang paling indah yang bisa ia temukan. Kemewahan itu bukan kesombongan. Itu bentuk penghormatannya.
Bung Karno membakar semangat bangsa lewat pidato yang menggelegak. Putranya memilih jalan yang jauh lebih sunyi. Nasionalisme Guruh tidak berbunyi garang. Ia bernyanyi. Ia menyusun koreografi. Ia memakaikan batik dan emas pada panggung yang ditonton jutaan mata. Cinta pada Indonesia tidak harus diucapkan keras-keras. Kadang cukup dihidangkan dalam bentuk keindahan yang membuat orang lupa bahwa mereka sedang diajari mencintai negerinya.
Ia tidak pernah menikah. Hidupnya habis untuk panggung dan untuk keluarga besarnya. Cara bicaranya lembut dengan logat yang tidak bisa ditiru siapa pun. Ia berpolitik beberapa periode namun seni tetap menjadi rumah utamanya. Di tengah ramainya dunia yang gemar menyerang nyaris tak ada yang tega menyerangnya. Keunikannya begitu utuh sehingga olok-olok terhadapnya selalu berakhir menjadi rasa sayang. Publik Indonesia jarang sebulat itu dalam urusan mengampuni keanehan seseorang.
Kini panggung itu kehilangan arsiteknya. Para penari yang ia latih masih tersebar di mana-mana. Koreografi yang ia susun masih diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Panggung boleh padam. Warisannya tidak.

Ada satu nasib paling indah yang bisa dialami seorang komponis. Namanya mulai dilupakan orang sementara lagunya terus dinyanyikan. Anak-anak akan terus bersenandung tentang seribu pulau itu bertahun-tahun ke depan. Mereka tidak akan mengenal wajah penciptanya. Guruh kemungkinan besar tidak keberatan. Ia sudah membuktikan seumur hidup bahwa karyanya tidak membutuhkan tanda tangan.
Selamat jalan Guruh Soekarnoputra. Engkau memilih jam paling sunyi untuk pergi seolah tidak ingin merepotkan siapa pun. Pulanglah dengan tenang ke pelukan Sang Proklamator. Sampaikan pada beliau bahwa republik ini masih berdiri. Sampaikan pula bahwa sepanjang tujuh puluh tiga tahun hidupmu engkau tidak sekali pun menodai nama yang diwariskan kepadamu. Panggungmu akan kami jaga. Lagu-lagumu akan kami rawat. Negeri ini berutang nyanyian kepadamu dan utang itu akan kami bayar setiap kali lagumu dikumandangkan.