Debut Manis Vickery dalam Kemenangan 2-0 Indonesia atas Singapura
Pendukung timnas Indonesia punya satu keahlian yang jarang diakui. Kami pandai bertahan hidup dari persediaan yang menipis. Semalam persediaan itu datang dalam bentuk dua gol. Indonesia menang 2-0 atas Singapura dalam laga yang statusnya cuma uji coba. Perayaan kami mungkin terkesan berlebihan. Namun bagi pecinta bola di negeri ini kemenangan sekecil apa pun layak disyukuri dengan porsi berlebihan.
Konteksnya perlu diceritakan dulu. Mimpi menginjak panggung Piala Dunia kembali harus ditunda. Perjalanan kualifikasi yang panjang itu berakhir bukan dengan pesta melainkan dengan keheningan. Sepak bola Indonesia memang sudah lama ahli menggantung harapan setinggi langit lalu berdiri terpaku ketika harapan itu jatuh.
Sambutan publik tidak pernah bulat ketika Singapura ditetapkan sebagai lawan. Ada yang menyebut pertemuan ini sebagai obat pereda nyeri yang diresepkan dokter langganan. Ada pula yang sudah menyiapkan bahan ejekan jauh sebelum peluit pertama dibunyikan. Begitulah kebiasaan kami. Skeptis saat menang tipis. Skeptis saat menang besar. Skeptis juga saat kalah. Dalam urusan bersiap kecewa kami memang profesional.
Lalu pertandingan digulirkan. Singapura datang tertata dan jujur. Mereka menutup ruang dengan disiplin sambil menunggu Garuda berbuat salah. Bola lebih banyak berada di kaki pemain Indonesia. Sebagian besar peluang juga lahir dari sisi kita. Namun satu kekhawatiran tua tidak pernah benar-benar pergi. Setiap kali dominasi belum membuahkan gol ingatan kami langsung memutar film lama tentang penguasaan bola yang gemilang diikuti serangan balik yang menyakitkan.
Gol itu akhirnya datang. Rafael Oratmangoen adalah pencetaknya. Pemain yang bukan pendatang baru dalam urusan mencetak gol untuk timnas itu kembali menunaikan kewajibannya dengan tenang. Bola diarahkannya ke jala Singapura dan stadion meledak. Namun mata yang jeli justru tertuju pada satu detail kecil di lembar statistik. Pencetak gol selalu ditulis dengan nama penolongnya di dalam tanda kurung. Malam itu isi kurungnya adalah Vickery. Pemain yang sampai beberapa jam sebelumnya belum punya satu pun catatan penampilan untuk timnas senior.
Debut selalu punya daya pikat tersendiri. Ada gemuruh kecil di dada setiap pemain yang menginjak lapangan dengan nama tercetak di punggung untuk pertama kalinya. Sebagian besar cerita debut berakhir biasa saja. Pemain tampil lumayan lalu dipuji karena niatnya. Vickery memilih jalan yang lebih jujur. Ia memastikan malam pertamanya dikenang lewat satu umpan matang yang berujung gol. Umpan semacam itu adalah cara paling sopan untuk memperkenalkan diri kepada sebangsa. Tidak perlu pidato. Tidak perlu pernyataan bombastis. Cukup satu bola yang diberikan dengan benar kepada orang yang tepat. Biarlah kaus dari malam itu disimpan bersama segala keringatnya. Benda bersejarah jarang lahir dalam keadaan bersih.
Tentu kita harus menahan diri sedikit. Kebiasaan lama kita adalah menobatkan pemain sebagai penyelamat setelah satu pertandingan lalu menguburnya kembali setelah dua pertandingan berikutnya. Marilah bersikap sewajarnya. Menyambut debut semanis itu dengan senyum dan harapan secukupnya sudah lebih dari cukup. Biarkan nama itu tumbuh tanpa dipaksa menjadi legenda dalam semalam.
Gol kedua menyusul untuk memastikan semalam bukan malam drama tambahan. Dua kali jala Singapura bergetar. Jala kami tetap tenang. Sederhana. Manis. Cukup.
Pemandangan terbaik justru tidak selalu berada di dalam lapangan. Lihat saja ke arah tribun. Mereka yang datang paling awal dan pulang paling akhir tetap bernyanyi tanpa peduli catatan pertandingan. Ada anak kecil memakai kaus bernomor punggung idola. Ada bapak-bapak yang besok pagi harus bekerja. Mereka memilih berdiri sepanjang 90 menit. Di grup keluarga tiba-tiba muncul stiker perayaan dari seorang paman yang sudah berminggu-minggu hening. Sebagian penonton pulang membawa satu nama baru untuk diceritakan di warung kopi. Nama itu tentu saja nama yang kemarin baru pertama kali mereka lihat di punggung pemain timnas.
Untuk Singapura sebaiknya kita berterima kasih dengan cara yang benar. Bukan dengan cemoohan. Negara itu pernah rajin membuat kita menangis. Generasi Tiger Cup masih hafal bagaimana Singapura kerap menghentikan langkah Indonesia di fase-fase penentuan. Piala AFF beberapa tahun silam pun menyaksikan kami nyaris terhenti dan hanya lolos lewat drama adu penalti. Semalam roda keberuntungan berputar ke arah kita. Rivalitas tua di Asia Tenggara sudah terlalu panjang untuk dijadikan bahan lelucon murahan. Hormat untuk tamu yang kalah dengan jujur.
Setelah diizinkan berbahagia sekarang tibalah bagian yang tidak menyenangkan. Kemenangan semalam bukan trofi. Ia bahkan bukan jaminan apa pun. Uji coba tetaplah uji coba. Sepak bola Indonesia punya sejarah panjang membangun istana dari pertandingan persahabatan lalu meratakannya kembali begitu laga resmi tiba. Perlakukan hasil ini seperti garam. Sedikit sudah cukup untuk memberi rasa. Terlalu banyak justru merusak masakan. Patrick Kluivert mendapat ruang untuk bernapas. Para pemain mendapat kembali secangkir kepercayaan diri yang sempat tumpah. Ada pula satu nama baru yang menjawab pertanyaan sebelum ditanyakan. Manfaatnya sampai di situ saja. Sisanya masih harus dibuktikan pada pertandingan yang benar-benar menentukan.
Di ujung malam kami pulang membawa rasa yang sudah lama tidak dicicipi. Menang ternyata masih enak. Ia tidak mengubah dunia dan tidak pula menghapus catatan buruk. Tetap saja enak. Semoga kami tidak harus menunggu terlalu lama untuk mencicipinya kembali. Bila kelak timnas kembali menyakiti hati sebagaimana tradisi kami yang paling konsisten jangan kaget bila tribun tetap penuh. Marah sambil membeli tiket. Kecewa sambil bernyanyi. Beginilah cinta versi pendukung sepak bola Indonesia. Kurang sehat tetapi tidak ingin disembuhkan.