Bisnis

Batas Rp50 Dibuka, GOTO Justru Ditutup di 43

Redaksi ·

Ketika Bursa membongkar lantai Rp 50 yang bertahun-tahun dipercaya, GOTO melorot ke wilayah yang belum pernah disentuh saham sebesar itu. Warga pasar lalu memberi nama bagi level barunya. Namanya terdengar seperti kata pertama seorang bayi.

 

Agustus 2024 menyimpan cerita kecil yang mahal bagi warga pasar modal tanah air. Pasar global sedang panik hebat saat itu. Bursa Tokyo bahkan mencatat penurunan harian terburuknya dalam beberapa dekade. Di tengah suasana murung tersebut Bursa Efek Indonesia justru mengambil keputusan besar. Batas harga bawah saham sebesar Rp 50 resmi dihapus. Alasannya logis. Harga perlu dibiarkan menemukan titik keseimbangan yang sebenarnya. Hanya saja kalimat semacam itu jauh lebih hangat di ruang rapat daripada di layar ponsel kita.

 

Banyak orang menyebut peristiwa ini sebagai IHSG yang melepas batas. Penyebutan itu keliru dengan cara yang manis. Yang melepas aturan adalah BEI selaku pengelola bursa. IHSG hanyalah indeks. Ia tidak sanggup melepas apa pun. Pekerjaannya terbatas pada satu hal yaitu mencatat seberapa sakit kita setiap hari. Bagi para penghuni level 50 kabar itu terasa seperti pengumuman bahwa ranjang darurat yang selama ini mereka tumpangi ternyata hanya kursi lipat.

 

Rp 50 memang posisi terendah yang boleh disentuh harga saham selama bertahun-tahun. Auto reject bawah selalu berhenti tepat di angka itu. Saham yang jatuh ke level tersebut akan menetap layaknya penumpang terminal yang menunggu bus tanpa jadwal. GOTO menjadi penghuni paling tersohor di wilayah itu. Ia tidak sendirian. Namanya hanya yang paling nyaring sehingga kisahnya paling sering diceritakan. Ketika lantai itu diangkat, seluruh penghuni paham betul artinya. Tidak ada lagi alasan teknis untuk berhenti jatuh.

 

Hari perdana setelah aturan baru berlaku berjalan persis seperti dikhawatirkan banyak orang. GOTO melewati 48. Kemudian 47. Tekanan penjualan terus berlanjut sampai akhirnya sebuah angka yang belum pernah tercatat dalam catatan perjalanan emiten ini muncul di layar. GOTO ditutup di 43. Untuk pertama kalinya dalam sejarah bursa kita saham boleh berdiri di bawah lima puluh. Decacorn kebanggaan bangsa langsung memanfaatkan fasilitas baru tersebut dengan antusias.

 

Warga bursa tidak pernah kehabisan kreativitas. Mereka hanya butuh waktu kurang dari sehari untuk membaptis wilayah baru itu. Level 50 selama ini disapa gocap dengan nada bercanda. Level 43 kini disapa DADA. Asal usul nama ini ramai diperdebatkan di kolom komentar dengan keseriusan layaknya sidang skripsi. Sebagian meyakini DADA adalah bunyi pertama seorang bayi. Teori tersebut masuk akal karena banyak pemegang saham akhirnya hanya mampu merintih tanpa kata yang jelas. Sebagian lain mendengarnya sebagai ucap dadah yang ditinggalkan sang saham kepada pemiliknya. Ada pula yang menafsirkan DADA sebagai bagian tubuh yang paling sering dipegang ketika angka penutupan muncul. Sisanya mengaitkannya dengan aliran seni Dadaisme yang memuja keabsurdan. Semua penafsiran itu pada dasarnya benar.

 

Untuk merasakan beratnya angka 43 kita perlu mengingat angka 337. Itulah harga penawaran GOTO saat IPO pada April 2022. Euforia masa itu masih hangat di ingatan banyak orang. Publik mengantre di aplikasi sekuritas layaknya mengantre tiket konser. Nilai perusahaan sempat berada di kisaran Rp 400 triliun. Dua tahun lebih kemudian saham yang sama ditutup di 43 dengan nilai pasar sekitar Rp 50 triliun. Saham ini ternyata memiliki bakat yang jarang dimiliki aset lain. Bakat itu bernama konsistensi dalam arah yang salah.

 

Di dunia nyata uang Rp 43 tidak sanggup membeli apa pun. Permen di warung sekalipun akan menolak transaksi tersebut. Satu lot berisi seratus lembar hanya bernilai sekitar Rp 4.300. Angka itu masih kalah dari segelas kopi tubruk yang sudah dingin. Artinya kita bisa memiliki bagian dari perusahaan teknologi terbesar di negeri ini dengan harga secangkir kopi yang bahkan tidak lagi hangat. Ada semacam puisi dalam kesederhanaan itu. Sayangnya puisi tidak pernah mengembalikan modal.

 

Kejatuhan ini tidak layak disalahkan sepenuhnya kepada pasar global yang memang sedang panik. GOTO punya urusan pribadi yang jauh lebih tua dari kerusuhan minggu itu. Jumlah saham yang beredar melebihi satu triliun lembar. Program opsi saham karyawan terus menambah pasokan dari tahun ke tahun. Cerita pertumbuhan juga berubah setelah Tokopedia dijual kepada TikTok. Mahkota di etalase memang berkurang. Ketika lantai 50 diangkat, para pembeli yang menunggu di angka itu kehilangan alasan untuk tetap menunggu. Mereka keluar dengan harga berapa pun. Begitulah cara pasar bekerja ketika kepercayaan sedang dihitung ulang.

 

Yang menarik justru tersimpan di balik penampilan harganya. Neraca perusahaan ini tidak seburuk wajah sahamnya. Hasil penjualan Tokopedia meninggalkan kas bersih dalam jumlah puluhan triliun rupiah. Arus kas dan EBITDA-nya juga terus membaik dibanding masa-masa pembakaran uang. Perusahaan bahkan berulang kali mengumumkan pembelian kembali sahamnya sendiri. Ringkasnya begini. Harganya tampak seperti pasien unit gawat darurat. Neracanya seperti orang yang baru menerima warisan.

 

Bagaimana dengan peluang di level 43? Matematika di harga serendah ini bekerja dengan cara yang ganjil namun jujur. Satu rupiah kini setara 2,3 persen pergerakan harga. Kembalinya saham ke kisaran 60 berarti keuntungan hampir 40 persen. Pengungkit yang menyiksa di jalan turun akan terasa ringan di jalan naik. Inilah daya pikat abadi dari saham berharga receh. Namun pisau yang sama tetap bermata dua. Support berikutnya bukan lagi aturan bursa melainkan perasaan manusia. Angka 40 lalu 35 hanyalah garis psikologis. Tidak ada pihak yang diwajibkan menangkap saham yang jatuh di sana.

 

Bahan bakar untuk naik sebenarnya tersedia. Kas yang tebal membuat perusahaan sulit bangkrut dalam waktu dekat. Buyback berjalan cukup disiplin. Cerita profitabilitas juga masih hidup di laporan keuangannya. Bila seluruh bahan bakar itu menyala, pemulihan bisa datang lebih cepat daripada dugaan. Bila tidak, kesendirian di 43 bisa berlangsung sangat lama. Pasar tidak berutang rally kepada siapa pun.

 

Pelajaran tertua di bursa selalu menguap setiap kali harga jatuh sejauh ini. Saham murah dan saham yang sedang diskon adalah dua spesies yang berbeda. Yang pertama murah karena memang seharga itu. Yang kedua murah karena nilai wajarnya lebih tinggi. Membedakan keduanya menuntut riset. Menambah posisi tanpa riset bukanlah strategi. Itu doa yang dipanjatkan dengan bahasa pasar.

 

Di zona DADA kita akan menjumpai tiga wajah kemanusiaan yang tidak pernah berubah dari zaman ke zaman. Ada yang menambah posisi dengan mata berbinar sambil menyebut angka 35 sebagai takdir. Ada yang memasang order jauh di bawah harga pasar seperti nelayan yang memasang jaring lalu pulang tidur. Ada pula yang sudah terlanjur menjual dan kini menonton dari kejauhan dengan tatapan orang yang baru diputus. Seorang rekan saya mengetik pertanyaan di grup obrolan beberapa jam setelah sesi berakhir. Pertanyaannya hanya dua kata. Masih tahan? Tidak ada yang menjawab selama dua hari.

 

Yang sesungguhnya berubah saat itu bukan sekadar angka di layar. Pasar kita menjadi lebih jujur. Lantai 50 selama ini menghadirkan rasa aman yang palsu bagi saham-saham yang belum selesai mencari titik keseimbangannya. Gocap bukan rumah. Gocap adalah ruang tunggu. Penghapusannya memaksa harga untuk berbicara dengan bahasa yang sesungguhnya. Bahasa itu memang kerap kejam. Setidaknya ia tidak pernah berbohong.

 

Kelak GOTO akan berdagang di angka yang lain. Bisa lebih tinggi. Bisa pula lebih rendah. Bila saham ini pulih, DADA akan dikenang sebagai lelucon yang mahal tetapi menyenangkan. Bila tidak, kita setidaknya memperoleh satu keterampilan baru yang berguna seumur hidup. Keterampilan itu adalah seni mengusap dada dengan benar ketika portofolio bermandikan warna yodium.

 

Tulisan ini bukan anjuran membeli atau menjual saham apa pun. Penulis hanyalah salah satu dari banyak manusia yang sedang belajar berdamai dengan warna merah.